Muslim Amerika Kini Lebih Menerima Homoseksualitas Dibanding Evangelis Kulit Putih

Oleh: Carol Kuruvilla
1 Agustus 2017
Sumber: Huffington Post

Kaum queer dan Muslim Amerika sama-sama terpinggirkan di Amerika—sehingga penting sekali membentuk aliansi.

Orang-orang berpartisipasi dalam Transmarch di San Fransisco pada 24 Juni 2016.
(Luca_Bover via Getty Images)

Aktivis anti-Muslim kerap berupaya menghasut kebencian terhadap Muslim dengan mengklaim Islam secara inheren adalah anti-queer.

Kendati homofobia tentunya masih eksis di komunitas Muslim Amerika, secara keseluruhan Muslim Amerika lambat-laun jadi lebih menerima homoseksualitas.

Dan yang patut dicatat, laju penerimaannya lebih cepat dibanding evangelis Protestan kulit putih.

Sebuah survey Pew Research Center yang dilakukan tahun ini menemukan bahwa 52% Muslim AS menyebut homoseksualitas harus diterima oleh masyarakat. Kontrasnya, hanya 34% evangelis Protestan kulit putih percaya di tahun 2016 bahwa homoseksualitas harus diterima oleh masyarakat.

Laju pergeseran pandangan evangelis kulit putih lebih lambat daripada Muslim. Evangelis kulit putih bergeser pandangan sebesar 11 persen poin antara 2006 s/d 2016. Penerimaan Muslim terhadap homoseksualitas melonjak sebesar 25 persen poin antara 2007 s/d 2017.

Grafik dibuat oleh Alissa Scheller.
(Alissa Scheller/HuffPost)

Urooj Arshad, aktivis Muslim queer dan anggota Muslim Alliance for Sexual and Gender Diversity, berkata kepada HuffPost bahwa dukungan Muslim untuk komunitas LGBTQ mungkin bersandar pada pengalaman bersama yang dirasakan oleh kedua kelompok—menjadi korban diskriminasi. Queer Amerika dan Muslim Amerika sama-sama dirugikan di tahun-tahun belakangan oleh kebijakan dan retorika yang mengancam keamanan dan kesejahteraan komunitas mereka. Alhasil, kata Arshad, menurutnya tidak heran bahwa Muslim mulai menerima homoseksualitas.

“Sejak 11 September, komunitas Muslim menghadapi pengikisan hak-hak sipilnya yang telah membuat komunitas ini lebih simpatik pada pelanggaran hak-hak sipil terhadap komunitas terpinggirkan lain,” tutur Arshad kepada HuffPost.

Pada waktu yang sama, evangelis Protestan kulit putih tampak buta terhadap diskriminasi yang dihadapi kedua kelompok.

Kim Davis, pegawai Rowan County, Kentucky, yang dipenjara lantaran menolak mengeluarkan izin nikah untuk pasangan sesama jenis, membuat pernyataan usai menerima penghargaan “Cost of Discipleship” di konferensi Family Research Council di Washington 25 September 2015.
(James Lawler Duggan/Reuters)

Penolakan Evangelis Protestan Terhadap Hak Kaum Queer

Evangelis Protestan adalah kelompok keagamaan terbesar di Amerika, menyusun lebih dari seperempat warga Amerika. Dan dengan terpilihnya Presiden Donald Trump, para pemimpin evangelis meraih pijakan signifikan di Gedung Putih.

Para evangelis juga termasuk kelompok keagamaan yang paling mungkin menyimpan perasaan negatif terhadap Muslim. Survey-survey Pew menemukan, separuh evangelis kulit putih percaya terdapat “banyak” atau “lumayan” dukungan untuk ekstrimisme di kalangan Muslim yang tinggal di AS—lebih tinggi dari kelompok keagamaan manapun yang disurvey. Mereka cenderung percaya bahwa Islam mendorong kekerasan (63%) dan bahwa terdapat konflik alami antara Islam dan demokrasi (72%).

Dalam isu-isu yang berpengaruh pada kaum queer, evangelis kulit putih lebih menonjol dari kelompok-kelompok keagamaan lain.

Mereka adalah satu-satunya kelompok keagamaan besar yang mendukung membolehkan pemilik usaha kecil untuk menolak [menjual] barang atau jasa kepada kaum gay dan lesbian atas alasan keagamaan (56%). Dan kendati 63% orang dewasa Amerika mendukung pernikahan sesama jenis, hanya 34% evangelis Protestan kulit putih mengatakan hal yang sama.

Survey-survey menunjukkan, evangelis Protestan kulit putih lebih mungkin untuk menyebut umat Kristen menghadapi banyak diskriminasi di Amerika, daripada menyebutkan hal yang sama untuk Muslim. Evangelis kulit putih adalah kelompok keagamaan paling tidak mungkin untuk menyebut gay dan lesbian Amerika menghadapi banyak diskriminasi di AS.

Kendati dukungan untuk kesetaraan pernikahan sedang menanjak di kalangan evangelis muda, kelompok ini secara garis besar masih sangat menentang hak-hak kaum queer.

Bagi Brian McLaren, pengarang Kristen progresif dari latar belakang evangelis konservatif, angka-angka statistik ini mengkonfirmasi bahwa evangelis kulit putih sedang membedakan diri sebagai “kelompok demografis paling anti perubahan di Amerika”. Dia menganggap sikap anti perkembangan ini berakar dari keyakinan evangelis pada ketidakmungkinsalahan Alkitab. Dia juga percaya itu buah dari manuver “para penjaga gerbang evangelis tak resmi” yang cepat menyasar dan memencilkan organisasi maupun individu yang menyimpang dari penafsiran seksualitas konservatif.

“Saya biasa bilang bahwa para Evangelis adalah konservatif. Tapi saya kira terdapat pertumbuhan sayap regresif Evangelisme yang ingin kembali ke masa lalu ideal (dan fiksional)…sebuah Amerika Kristen kulit putih di mana patriarki merajalela dan orang-orang yang tidak tunduk [harus] ‘tahu diri’,” katanya kepada HuffPost. “Sedihnya, menjadi anti-LGBT dan anti-Muslim sedang jadi ujian nyata di banyak jemaat dan organisasi Evangelis.”

Para wanita berunjuk rasa mendukung putusan hakim federal di Seattle yang mengabulkan perintah pembatasan (restraining order) sementara secara nasional terhadap perintah presiden untuk melarang perjalanan ke AS dari tujuh negara mayoritas Muslim, di Tom Bradley International Terminal, Los Angeles International Airport pada 4 Februari 2017 di Los Angeles, California.
(David McNew via Getty Images)

Tumbuhnya Dampak dan Pengaruh Pemuda Muslim

Pergeseran sikap terhadap homoseksualitas dalam komunitas Muslim Amerika didorong oleh beberapa kelompok penting. Penerimaan Muslimah [terhadap homoseksualitas] meningkat sebanyak 31 persen poin dalam 10 tahun terakhir. Untuk lulusan kuliah, melonjak 32 poin dalam periode yang sama.

Para aktivis dan cendekiawan Muslim terutama melihat perubahan pola pikir di kalangan Muslim yang lebih muda. Muslim milenial lebih mungkin untuk menerima homoseksualitas (60%) daripada Muslim generasi lama. Penerimaan pemuda Muslim [terhadap homoseksualitas] tumbuh sebanyak 27 persen poin antara 2007 dan 2017.

Ini mungkin terkait dengan fakta bahwa Muslim dewasa Amerika sangat lebih muda daripada populasi dewasa AS secara keseluruhan. Sekitar 35% Muslim Amerika berusia antara 18 s/d 29 tahun. 21% populasi umum AS masuk dalam golongan usia ini. Secara umum, generasi muda Amerika cenderung berpandangan lebih menerima homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis.

“Muslim milenial adalah bagian dari populasi muda Amerika yang lebih toleran dan penuh kasih kepada teman-teman dan kerabat queer,” kata Mariam Durrani, antropolog di Hamilton College yang mempelajari Muslim Amerika.

“Sebagai bagian dari populasi terpinggirkan dan didiskriminasi, pemuda Muslim lebih mungkin untuk menganut sikap setiakawan dengan komunitas terpinggirkan dan didiskriminasi lainnya.”

Selain itu, urai Durrani, generasi muda Muslim menyaksikan para pemimpin dalam komunitas mereka melangkah maju mendukung hak-hak kaum queer. Ada pemimpin agama yang secara terbuka mendukung pemuda gay, ada masjid dan pusat komunitas di mana Muslim queer disambut, dan ada pemimpin dan seniman penghibur Muslim yang terang-terangan mengaku homoseksual.

“Semua ini menunjukkan bahwa menjadi queer adalah bagian dari komunitas Muslim Amerika, dan, seperti biasa, pemuda adalah yang paling progresif dalam hal ini,” kata Durrani.

Perdebatan di Dalam Komunitas Muslim Amerika Perihal Homoseksualitas

Arshad menyebut Muslim queer sudah menjadi “optimistis waspada” di tahun-tahun terakhir menyangkut penerimaan mereka di dalam komunitas Muslim Amerika.

“Saya tahu kita sudah melalui jalan panjang dan bahwa sekarang kita setidaknya punya ruang dalam gerakan hak sipil Muslim arus utama dan banyak sekutu berpengaruh. Saya kira masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan khususnya untuk menciptakan ruang aman bagi Muslim LGBT di dalam komunitas Muslim,” tuturnya kepada HuffPost.

Kendati Muslim sudah mengisyaratkan keterbukaan untuk mendukung LGBTQ Amerika secara umum, Arshad menyebut sebagian ragu untuk memberi tingkat dukungan yang sama kepada Muslim queer.

“Yang kita saksikan adalah kesediaan lebih untuk mendukung komunitas LGBT arus utama non Muslim tapi kalau soal Muslim LGBT, orang-orang jadi tak nyaman.”

Ketegangan terkait penerimaan Islam terhadap homoseksualitas mengemuka Juni ini di sebuah konvensi yang diselenggarakan Islamic Society of North America, perhimpunan nasional organisasi-organisasi Muslim. Di konvensi tahun lalu, para penyelenggara mencakup sebuah panel yang, untuk kali pertama, fokus pada isu LGBTQ. Tahun ini, Muslims for Progressive Values, sebuah kelompok advokasi, bermitra dengan Human Rights Campaign untuk mendirikan stan bersama di konvensi tersebut. Staf di stan membagikan brosur yang menyerukan adanya imam perempuan dan ruang shalat inklusif LGBTQ.

Beberapa jam setelah didirikan, MPV mengklaim para penyelenggara ISNA meminta stan itu ditutup, dikabarkan karena misi MPV adalah “antitesis keyakinan [ISNA]”. HRC mengkonfirmasi kepada HuffPost dalam sebuah surel bahwa stan bersama itu diusir dari konvensi ISNA.

Frank Parmir, pendiri MPV-Columbus, mengelola stan yang diadakan oleh Muslims for Progressive Values dan Human Right Campaign di konvensi tahunan ISNA ke-54 di Chicago, 30 Juni 2017.
(Muslims for Progressive Values)

“Tidak masalah HRC, kelompok hak LGBT arus utama, membuat pameran, tapi karena HRC berbagi meja dengan Muslims for Progressive Values, yang mengadvokasi Muslim LGBT, keduanya diminta angkat kaki,” kata Arshad kepada HuffPost.
HuffPost mengirim permintaan komentar kepada ISNA, tapi tidak mendapat kabar balasan.

Terlepas dari kontroversi ini, presiden MPV Ani Zonneveld mengaku tersemangati oleh tanggapan positif yang diterima stan selama masa singkat pendiriannya di konvensi ISNA.

“Banyak orang yang datang ke stan kami betul-betul mendukung,” ungkap Zonneveld kepada HuffPost.

Sejak pendirian MPV 10 tahun lalu, Zonneveld menyebut dirinya melihat lebih sedikit penolakan dan lebih banyak pembicaraan terbuka di dalam komunitas Muslim Amerika mengenai topik-topik seperti LGBTQ.

“Kami juga melihat imam-imam tradisional dan pemimpin komunitas dipaksa masuk ke dalam pembicaraan ini oleh para anggota jemaat mereka sendiri, seringkali generasi muda,” kata Zonneveld.

Arshad merasa data dari survey Pew sangat membesarkan hati karena betapa sering aktivis anti-Muslim memanfaatkan isu hak LGBTQ sebagai dalih untuk mendiskriminasi Muslim. Dia menunjuk bagaimana Presiden Donald Trump memanfaatkan pembantaian klab malam Pulse di Florida untuk menghimpun dukungan bagi pelarangan Muslim yang diusulkannya.

“Sebagai Muslim queer di titik-titik potong ini, saya selalu sadar bagaimana sayap kanan memanfaatkan peluang apapun untuk mendiskreditkan Muslim dan secara munafik memanfaatkan hak-hak LGBT sebagai proksi untuk berbuat demikian,” kata Arshad. “Sementara itu, riwayat pemerintahan ini untuk hak-hak kaum LGBT sangat mengerikan. Kini, lebih daripada sebelumnya, kita butuh dialog dan ruang berani untuk menjembatani beranekaragam komunitas kita dan [pergeseran] tren komunitas Muslim ini sangat menjanjikan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s